Home Uncategorized Apakah Boleh Membayar Zakat Untuk Orang Yang Sudah Meninggal ?

Apakah Boleh Membayar Zakat Untuk Orang Yang Sudah Meninggal ?

by Happy Puspa

Zakat adalah sebuah kewajiban yang mesti dilaksanakan bagi tiap-tiap Muslim yang mampu menunaikan zakat tersebut.

Tapi dalam prakteknya tidak seluruh Muslim yang miliki kelebihan harta atau diakui mampu menjalankan kewajiban agama tersebut.

Entah dikarenakan beraneka perihal dan alasan tersedia saja umat Islam tidak membayar zakat padahal kewajiban berikut sudah terlalu paham dalam ketetapan syariat Islam.

Berikut pertanyaannya: Bila tersedia bagian keluarga yang sudah meninggal, apakah bagian keluarga lain masih boleh membayar zakat atas nama Almarhum agar pahalanya masih mampu mengalir? atau tidak perlu?

Ustadz Fauzi Qosim sebagai pengasuh di rubrik ini memberikan jawaban sebagai berikut:

Zakat harta hanya diwajibkan atas harta yang dimilki oleh seseorang pas masih hidup.

Oleh karenanya, terkecuali seseorang sudah meninggal dunia dan juga sewaktu hidupnya sudah membayar zakat atas harta yang dimilki.

Maka tidak tersedia ulang yang mesti dikeluarkan zakatnya, dikarenakan kepemilikan seluruh hartanya beralih kepada ahli warisnya.

Berbeda terkecuali sewaktu hidupnya tidak membayar zakat atas harta yang dimiliki, maka sebelum akan hartanya diwaris kepada ahli warisnya.

Terlebih dahulu mesti dilaksanakan zakatnya cocok bersama dengan jumlah harta yang mesti dizakati pas masih hidup.

Adapun zakat fitrah, mesti dilaksanakan atas orang yang hidup menjumpai bagian dari bulan ramadan dan tanggal satu bulan syawwal (terhitung mulai masuk pas maghrib malam lebaran), walau hanya sebentar.

Oleh karenanya terkecuali seorang meninggal setelah masuk pas maghrib malam lebaran (memasuki tanggal satu syawwal), mesti dilaksanakan zakat fitrah atasnya.

Namun tersedia beberapa pendapat ulama yang selalu mesti dikeluarkan oleh ahli warisnya berdasarkan hadits:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari tingkah laku yang percuma dan kalimat kotor dan juga sebagai dukungan makanan untuk orang-orang miskin”. Wallaahu a’lam

Related Posts