Home Uncategorized Cerita Rakyat Indonesia

Cerita Rakyat Indonesia

by Happy Puspa

Narasi rakyat dapat disebut selaku peninggalan negara Indonesia yang harus selalu dibudayakan sampai saat ini. Sama dengan pengarangnya yang mempunyai sifat anonim serta persebarannya melalui mulut ke dalam mulut, tidak aneh apabila sejumlah ceritanya bakal kedengar sedikit tidak sama tergantung siapakah yang ceritakan.

Banyak kegunaan yang dapat dirasa dengan mengenali bermacam narasi rakyat daerah-daerah di Indonesia. Paling tidak pembaca jadi tahu tentang budaya, kebiasaan istiadat, serta beberapa nama wilayah di bermacam pulau di Indonesia. Perihal inilah yang menjadi dasar kenapa narasi rakyat terus diperkenal sejak mula-mula di anak-anak. Tiap-tiap wilayah miliki bermacam narasi rakyat yang beda juga menarik.

Di bawah ini yaitu cerita rakyat yang tenar di Indonesia

  1. Mentimun Mas

Suatu narasi tradisionil dari Jawa tengah, “Mentimun Mas” (“Timun Emas”) menghadirkan seseorang gadis muda pemberani yang dapat lolos dari cengkaman raksasa yang memiliki nama Buto Ijo (“Raksasa Hijau”).

Ini mulai dengan seseorang janda tua tanpa ada anak yang tinggal sendiri. Ia mendatangi Buto Ijo, seseorang raksasa yang kuat, memohon buat diberi berkah dengan seseorang anak. Buto Ijo memberikan timun besar serta memohon janji buat berikan anak sulungnya buat dikonsumsi.

Sewaktu janda itu pulang, ia mendapatkan seseorang bayi wanita di timun. Ia memberi nama Mentimun Mas serta lupakan janjinya.

Satu hari, sewaktu Mentimun Mas udah remaja, Buto Ijo berkunjung ke rumah wanita tua itu memohon buat penuhi janjinya. Wanita itu memerintah Mentimun Mas larikan diri, membungkusinya stock biji timun ajaib, jarum serta garam.

Buto Ijo menguber Mentimun Mas namun ia terus sukses larikan diri dengan memanfaatkan cara sulap ibunya. Buto Ijo selanjutnya ditundukkan sewaktu Mentimun Mas menaburkan garam di seputarnya yang berganti jadi lautan serta menelannya utuh.

Penerbit Erlangga for Kids (EFK) membuat narasi vs Disney di tahun 2016. Didalamnya, Buto Ijo yaitu raksasa kesepian yang paling pengin Mentimun Mas jadi temannya. Mentimun Mas memerintahnya tersenyum biar tak tampak menyeramkan. Narasi selesai berbahagia dengan Buto Ijo yang tersenyum kumpul bersama kawan-kawan anyarnya.

Editor EFK Windrati Hapsari mengucapkan pada Jakarta Globe kalau narasi itu berniat diubah buat bawa pesan pertemanan yang positif serta membuat kurang menyeramkan buat anak-anak.

  1. Sangkuriang

Nama Tangkuban Parahu, gunung berapi di Lembang, Jawa Barat, bermakna “perahu kebalik” dalam aksen Sunda di tempat. Nama ini diambil dari legenda lokal yang punya kesamaan dengan tragedi Yunani classic “Oedipus Rex.”

Profil inti dalam narasi ini yaitu seseorang putri pengisolasian yang memiliki nama Dayang Sumbi yg suka menenun buat mengisi senggang senggangnya. Satu hari, jarum tenunnya raib serta ia sangat malas buat mendapatkannya. Kebalikannya ia membikin impian kalau ia bakal menikah dengan siapa saja yang mendapatkan jarum untuk dia.

Satu ekor anjing yang memiliki nama Tumang mendapatkan jarum itu serta mengantar kembali pada Dayang Sumbi. Anjing itu nyatanya yaitu dewa yang diazab buat hidup selaku anjing. Dayang Sumbi serta Tumang menikah, serta tidak lama setalah itu putra mereka Sangkuriang lahir.

Sangkuriang tumbuh jadi pemburu yang tangkas. Ia mencari dengan Tumang, namun tidak mengerti kalau anjing itu sesungguhnya yaitu ayahnya. Satu hari, sewaktu ia tidak bisa mendapatkan mangsa, Sangkuriang membunuh Tumang serta bawa pulang hatinya.

Sewaktu Dayang Sumbi mengenali putranya sendiri udah membunuh suaminya, ia memukul kepala Sangkuriang, tinggalkan sisa cidera yang besar, serta menyingkirkannya.

Beberapa tahun setelah itu, Sangkuriang kembali pada rumah serta kasmaran di ibunya sendiri – yang udah dikasihkan rahmat tahan lama muda oleh banyak dewa. Dayang Sumbi awal mulanya suka oleh pemuda itu, saat ini seseorang pejuang termasyhur, namun ia setelah itu lihat sisa cidera di kepala Sangkuriang serta memahami kalau ia yaitu putranya sendiri.

Buat menyudahi Sangkuriang menikah dengannya, Dayang Sumbi menyuruhnya buat membuat danau serta perahu besar buat melaut sebelumnya fajar datang. Sangkuriang panggil sukma pendahulunya buat menolongnya mengakhiri pekerjaan.

Risau Sangkuriang bakal penuhi tenggat waktunya, Dayang Sumbi berdoa biar fajar hadir lebih dini serta memanfaatkan selendang ajaibnya buat membentuk cahaya matahari. Dalam keputusasaan, serta memikir kalau ia udah tidak sukses jalankan pekerjaannya, Sangkuring menyepak perahunya yang 1/2 jadi kebalik serta perahu yang kebalik itu berganti jadi gunung.

  1. Sang Kancil

Di Indonesia serta Malaysia, narasi terkait penipu yang dikatakan “Sang Kancil” (“Sang Kancil”) begitu tenar. Dalam narasi, Kancil terus mensiasati petani serta hewan yang bertambah besar.

Dalam “Kancil serta Buaya”, Kancil pengin melintasi sungai buat sampai kebun timun. Sungai itu banyak buaya yang pengin mengonsumsinya. Dalam satu diantara vs narasi, Kancil memerintah buaya berbaris sebab pengin berikan mereka daging serta ia melonjak ke punggung buaya buat sampai kebun timun.

Vs lain mengucapkan Kancil menipu buaya buat berbaris dengan mengabarkan kalau raja rimba melaksanakan festival serta Kancil udah ditugaskan buat mengalkulasi jumlah buaya di sungai.

Narasi kancil udah diganti jadi buku serta pementasan wayang. Menurut jurnal histori Historia, vs terdaftar paling tua dari narasi Kancil yaitu “Serat Kancil Amongsastra” oleh Kyai Rangga Amongsastra, seseorang penulis istana buat Solo Sunan Pakubuwono V. Lagu-syair dicatat di tahun 1822 namun tak diluncurkan hingga tahun 1878.

Buku Kancil yang lain tergolong “Serat Kancil van Dorp” yang diluncurkan oleh penulis Belanda G. C. T. van Dorp di Semarang, Jawa tengah, di tahun 1871. Ada “Serat Kancil Salokadarma” serta “Serat Kancil Amongraja”, yang dicatat buat keraton Pakualaman Yogyakarta.

Menurut sejarawan Philip Frick McKean, kancil menggambarkan pria Jawa atau Melayu yang baik, yang pecahkan persoalan dengan tenang serta berkepala dingin buat mengelak perseteruan terbuka.

Related Posts