Home Uncategorized Hal Penting yang Wajib Diketahui Mahasiswa Hukum Sebelum Lulus

Hal Penting yang Wajib Diketahui Mahasiswa Hukum Sebelum Lulus

by Happy Puspa

Berbicara perihal lulusan hukum yang dapat menjadi sarjana hukum mesti berbicara perihal bekal yang mesti dimiliki sebelum saat lulus. Sehingga, sekiranya mahasiswa Pasca sarjana ilmu hukum udah punya bekal yang baik maka dapat mampu menjalankan dunia pasca kampus bersama dengan baik. Berikut perihal yang mesti disiapkan mahasiswa hukum sebelum saat lulus.

  1. Jangan cuma berteori, namun berpraktiklah!!!
    Chandra Motik, Ketua ILUNI UI membuktikan bahwa sekiranya inginkan punya karier yang cemerlang pasca belajar di kampus, maka mahasiswa hukum jangan cuma berteori selagi di kampus. Sehingga ketika punya kebolehan atau skill lebih didalam berpraktik maka mahasiswa hukum dapat punya nilai plus di selagi pasca kampus.

“Praktik. Jadi mahasiswa terhitung mesti belajar perihal praktik. Kampus terhitung mesti menyiapkan supaya menyiapkan praktik, terhitung para dosen. Sehingga ketika mereka lulus itu tidak ketinggalan bersama dengan yang lain. Jangan cuma berteori saja,” ujarnya.

  1. Ikuti pertumbuhan isu dan keputusan hukum
    Menurut Chandra, selain di kampus jangan cuma belajar teori, mahasiswa hukum mesti menyadari dan mengikuti pertumbuhan hukum yang sedang berkembang, supaya bersama dengan demikianlah ketika lulus mampu berkompetisi bersama dengan yang lainya.
  2. Jangan terlena oleh gadget
    Ari Wahyudi, Ketua Unit Mahasiswa dan Kompetisi Kemahasiswaan mengatakan bahwa bersama dengan majunya teknologi yang tersedia saat ini jangan hingga malah menjadi kerugian bagi mahasiswa. Pasalnya, bersama dengan dibantu bersama dengan gadget yang canggih maka banyak mahasiswa yang terlena supaya tidak menyiapkan diri bersama dengan baik.

Ari memberi tambahan contoh ketika dirinya mengajar mahasiwa, saat ini jika laksanakan presentasi banyak yang tidak punya persiapan yang baik. Kemudian, sekiranya tersedia pertanyaan yang tidak mereka ketahui maka kemudian mereka terhubung gadget dan mencarinya. Sedangkan selagi zamannya menjadi mahasiswa sekiranya inginkan laksanakan presentasi dirinya dapat menyiapkan sedemikian rupa supaya ketika presentasi siap sekiranya ditanya.

“Kalau menurut saya saat ini jauh lebih gampang karena semua fasilitas udah disiapkan. Fasilitas yang tersedia modal, jangan hingga melenakan mahasiswa supaya menjadi sesuatu yang malah tidak menguntungkan. Sehingga jangan hingga gadget-gadget ini menjadikan mahasiswa menjadi ketergantungan,” jelasnya.

  1. Persiapkan Career Path!
    Rencana karier terlampau dibutuhkan oleh mahasiswa sebelum saat dirinya menyandang gelar sarjana. Pasalnya, banyak sekali mahasiswa yang cuma menyadari lawyer sebagai karier bagi sarjana hukum, padahal banyak sekali profesi yang mampu menjadi alternatif bagi sarjana hukum, lebih-lebih profesi di bidang publik.

Kemudian, menurutnya, banyak mahasiswa yang belum menyadari konsekuensi atau beban kerja sebagai seorang pengacara dan cuma menyaksikan pengacara dari faktor penghasilannya saja. Dibutuhkan pula pemahaman atau pemaparan dari sektor yang lain seperti perusahaan atau BUMN perihal jenjang karier bagi lulusan sarjana hukum di kampus-kampus.

“Terkait bersama dengan minat. Dengan skill yang dimiliki banyak mahasiswa yang condong pilih lapangan pekrjaan. Padahal, orientasinya seharusnya tidak cuma sesaat. Tetapi malah mesti diberikan stimulan, supaya dibutuhkan penyusunan konsep kerja ke depannya,” ujarnya.

  1. Jangan terlampau yakin diri (PD) dan jaga etika
    Menurut Ari, saat ini ini banyak sekali mahasiswa yang punya rasa PD yang bagus dan malah banyak yang berlebihan. Rasa PD yang berlebihan tersebut kemudian mampu menjadikan seorang lulusan hukum menjadi keluar tidak punya etika.

“Untuk yakin diri, mahasiswa bahkan melebihi atau agak berlebihan. Itu menjadi tantangan karena jika terlampau yakin diri dapat bertentangan bersama dengan faktor etika. Karena tersedia lebih dari satu kawan mahasiswa yang faktor etikanya bersama dengan senior bermasalah, supaya etika itu terlampau mutlak dan terlampau mesti diperhatikan,” ujarnya.

Related Posts