Home Uncategorized Haruskah Kita Belajar Bahasa Arab?

Haruskah Kita Belajar Bahasa Arab?

by Happy Puspa

Berbicara mengenai bhs bermakna bicara mengenai tempat untuk menghantarkan pesan agar gampang dipahami. Menurut Syaikh Aiman Amin Abdul Ghani dalam bukunya An-Nahwu Al Kafi bhs merupakan layanan kursus arab pare untuk saling sadar di pada manusia dan tempat pengungkapan arti dalam benak”

Bukan cuma sadar pesan manusia yang memerlukan bahasa, sadar pesan Allah terhitung memerlukan bahasa. Bagaimana caranya menunjukkan bahwa Alquran merupakan pesan cinta yang Allah memberikan untuk manusia di dunia? Setidaknya terdapat tiga mungkin darimana Alquran berasal: Pertama, karangan bangsa Arab.

Kemungkinan pertama sanggup dibantahkan, perihal ini sebab tidak tersedia satu orang Arab pun yang sanggup membuat satu ayat Alquran yang semisal. Beberapa kali Allah menantang barang siapa melalui lebih dari satu firman-Nya : “Dan jikalau anda selamanya dalam kecurigaan mengenai Alquran yang Kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat saja yang misal Alquran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jikalau anda orang-orang yang benar” (QS. Al Baqarah: 23)

Terdapat tantangan mirip pada dua surat lain yang berbunyi Katakanlah “Sesungguhnya jikalau manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang mirip Alquran ini, niscaya mereka tidak bakal sanggup membuat yang mirip dengan dia, sama sekali lebih dari satu mereka jadi pembantu bagi lebih dari satu yang lain” (QS. Al Isra: 88); “Maka datangkanlah 10 surat seumpamanya dan panggillah orang-orang yang anda sanggup selain Allah, jikalau anda sesungguhnya orang-orang yang benar”(QS. Huud:13)

Kemungkinan yang kedua Alquran merupakan perkataan Rasulullah SAW, perihal ini terhitung terbantahkan. Karena Rasulullah terhitung bagian dari orang Arab yang tidak sanggup membuat ayat Alquran semisal. Meskipun Rasulullah terhitung menyapaikan hadis, lagipula hadis yang beliau sampaikan gaya bahasanya terlalu tidak sama dengan gaya bhs Alquran. Ditambah lagi beliau terhitung ummi.

Sehingga mungkin kedua ini sanggup ditolak dengan tegas juga.
Oleh sebab itu jikalau mungkin pertama dan kedua terbantahkan, tersisa mungkin ketiga yang merupakan mungkin yang rasional bahwa Alquran datangnya dari Allah SWT. Dia memilihkan bhs Arab sebagai bhs yang digunakan untuk menghantarkan pesan cinta untuk manusia bukan tanpa sebab. Allah menjelaskan bhs Arab dengan bhs yang Al-Mubin yaitu bhs yang sanggup menjelaskan “Alquran itu turun dengan bhs Arab yang mubin”(QS. Asy-Syu’ara: 195)

Setiap kata pada Alquran memiliki arti yang indah dan penuh hikmah, agar jadi PR bagi manusia jikalau idamkan sadar pesan cinta apa yang Allah sampaikan, satu-satunya jalur adalah menguasai bhs Arab. Banyak sekali istilah-istilah Islam hari ini yang jauh dari arti aslinya, layaknya arti jihad, qishash, rajam hari ini didefinisikan oleh barat sebagai suatu hal yang menakutkan dan radikal. Lagi-lagi salah satu alasannya sebab kaum muslimin tidak sadar bhs Arab, kelanjutannya mereka terkena propaganda barat, dan mengaamiini bahwa istilah-istilah berikut berbahaya. Aduhai dzalim sekali

Tidak cuma berhenti sampai disitu, lemahnya ghirah kaum muslimin dalam memelajari bhs Arab membuat kaum muslimin memaknai ayat dakwah yang awalannya kewajiban setiap diri, jadi berganti dakwah adalah tugas Ustaz saja. Akhirnya keadaan gempuran food, fun, fashion, freedom, film berkolaborasi dengan terabaikannya tugas dakwah membuat kemungkaran makin lama merajalela. Maka jangan heran jikalau zina, riba dan bermacam kemaksiatan menjamur dari Aceh sampai Papua.

Ditinggalkannya bhs Arab, khususnya dipisahkannya bhs Arab sebagai ilmu alat untuk sadar Islam dan membedah dalil untuk menyolusikan problematika masyarakat jadi nihil, kelanjutannya masyarakat menyolusikan masalahnya pada solusi yang lain, padahal faktanya kami menyaksikan sendiri bagaimana keadaan masyarakat dikala gunakan solusi lain, kian rusak lebih-lebih merusak.

2021 kemarin, kami menyaksikan betapa pembicaraan mengenai akar kasus kekerasan seksual kian alot, harga-harga melambung tinggi, bencana tidak terantisipasi dengan baik, kesegaran jadi suatu hal yang dibisniskan PCR misalnya, hutang negara makin lama banyak, ulama banyak yang dipersekusi, korban Covid-19 pada gelombang kedua meraih angka terbesar, dua menteri di negeri ini jadi bagian dari pandora papers, masalah kemiskinan yang tidak kunjung usai dll.

Seharusnya jikalau penyolusian kasus tepat, normalnya kasus bakal makin lama berkurang, sayangnya tidak. Jelas bermakna kaidahnya, jikalau kaum muslimin meninggalkan agamanya maka ia bakal jadi kaum yang terbelakang, sebab kaum muslimin dimuliakan sebab Islam itu sendiri. Jika kaum muslimin meninggalkan Islam, maka ia bakal jadi terbelakang, bukan jadi umat yang terbaik. Berkutat pada kasus tekhnis tanpa menyolusikan akar kasus dengan solusi yang benar cuma bakal menyisakan kasus demi kasus yang tak pernah usai.

Sehingga jikalau permasalahan ini selesai, maka kami wajib menyelesaikan akar masalahnya yaitu sekulerisme, yang memisahkan pada agama dengan kehidupan, agar hari ini belajar bhs Arab ya belajar bhs Arab saja, karisma bhs Arab dipisahkan dengan Islam, yang tersedia pembelajaran bhs Arab cuma jadi momok menakutkan pada madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah sampai aliyah. Sekulerisme cuma bakal menjadikan kaum muslimin jadi umat yang terbelakang.

Oleh sebab itu jikalau kami idamkan meraih kemuliaan lagi satu-satunya jalur yaitu menerapkan Islam sampai tataran negara agar sanggup jadi kebolehan besar yang memberikan rahmat bagi seluruh alam. Dalam sejarah peradaban besar, dikala Islam menaklukkan suatu bangsa, bangsa berikut terpercik berkah, jadi bangsa yang maju dan berperadaban. Maka mari jadi bagian yang memperjuangkan lagi tegaknya kemuliaan itu di mulai dari belajar bhs Arab!

Related Posts