Home Uncategorized Wisata Dan Budaya yang Terkenal di Sultra

Wisata Dan Budaya yang Terkenal di Sultra

by Happy Puspa

Wisata budaya di Sulawesi Tenggara (Sultra) merupakan anggota berasal dari ribuan budaya yang sudah berkembang di Indonesia sejak zaman dulu kala.

Berdasarkan information yang dihimpun Wisata Sultra berasal dari beragam sumber, sedikitnya ada 6 wisata budaya di Sultra yang terkenal.

  1. Wisata Tenun Buton
    Seni menenun sudah dikenal di Sultra secara turun temurun berasal dari nenek moyang ratusan tahun yang lalu. Hasil tenunan ini benar-benar dikagumi dikarenakan dikerjakan bersama penuh keterampilan, konsistensi dan kesabaran. Pada biasanya seluruh pekerjaan menenun dikerjakan oleh wanita untuk mencukupi sandang keluarga, untuk keperluan upacara rutinitas perkawinan, pesta-pesta, acara rutinitas lainnya dan pakaian sehari-hari.

Kerajinan tenun berasal dari Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara biasanya melukiskan object alam yang mereka temukan di sekitarnya. Tenun Buton termasuk kaya bakal warna-warna. Inilah yang menjadi kekhasan kerajinan tenun berasal dari Buton.

Tenun-Buton oleh penduduk Buton, kerajinan tenun ini diakui bisa menjadi perekat sosial bagi penduduk Buton, dikarenakan tenun Buton adalah sumber pengetahuan orang-orang Buton jelas lingkungan alamnya.

Hal ini terlihat berasal dari corak dan motif tenunannya, apabila motif betano walona koncuapa yang terinspirasi berasal dari abu halus yang melayang-layang hasil pembakaran semak waktu terhubung ladang; motif colo makbahu atau korek basah, motif delima bongko (delima busuk), motif delima sapuua, dan lain lain. Motif sederhana disebut kasopa, sedang motif yang lebih rumit disebut kumbaea

Selain sebagai perekat sosial, tenun Buton termasuk diakui bisa menjadi identitas diri, dikarenakan bagi orang Buton, pakaian tidak cuma sebagai pelindung tubuh berasal dari terik matahari dan dinginnya angin malam, tapi termasuk sebagai identitas diri.

Dengan menyaksikan pakaian yang dikenakan oleh wanita Buton misalnya, kami bisa jelas apakah dia sudah menikah atau belum. Selain itu, mereka termasuk bisa pertanda perempuan tersebut berasal berasal dari golongan awam atau bangsawan.

  1. Upacara Adat Posuo
    Posuo di penduduk Jawa disebut pingitan. Dalam tatanan penduduk Buton, posuo diartikan sebagai suatu prosesi upacara peralihan status individu wanita berasal dari gadis remaja didalam bahasa Buton, labuabua ke status gadis dewasa kalambe.
    Upara ritual ini dipercayai sebagai fasilitas menguji kesucian seorang gadis. Menurut La Ode Maulidun (46), budawayan Buton, upacara posuo dikerjakan selama delapan hari delapan malam didalam area tertentu yang disebut suo.

Selama dikurung di area sempit dan pengap itu, peserta posuo diisolasi dan diprotekasi berasal dari beragam pengaruh dunia luar yang berjalan di sekelilingnya, jikalau cuma berhubungan bersama bhisa yang memberi pembinaan atau petunjuk tertentu yang ditunjuk langsung oleh pemangku adat.

Selama itu pula, pawang gendang tetap menabuh gendang dan gong. Jika ada gendang yang pecah waktu ditabuh, menandakan bahwa ada di antara gadis posuo yang sudah dulu berhubungan badan bersama lawan jenis.

Meski demikian, masalah itu tidak bakal diungkap secara umum, tapi menjadi rahasia antara pawang gendang dan keluarga peserta posuo.


Menurut La Ode Abu Bakar (72), Budayawan Buton lainnya yang termasuk Ketua Adat Masyarakat Sultra, didalam penduduk rutinitas Buton mengenal tiga type posuo. Pertama Posuo Wolio (posou yang berasal berasal dari penduduk Wolio atau Buton sendiri), kedua, Posuo Johoro (posuo yang berasal berasal dari Johor-Melayu) dan Posuo Arabu (posuo hasil medofikasi dan adaptasi berasal dari posuo Wolio dan nilai-nilai Islami.

  1. Upacara Adat Kabuenga
    Kabuenga merupakan rutinitas mencari pasangan hidup khas Kabupaten Wakatobi. Tradisi ini bermula dikala para pemuda maupun gadis setempat jarang membawa kesempatan bertemu.

Dahulu para pemuda kerap berlayar untuk merantau atau lebih banyak di laut supaya sukar bersua bersama para gadis. Karena itulah, para laki laki dan perempuan lajang sesudah itu dipertemukan didalam Tradisi Kabuenga. Tradisi ritual Kabuenga yang diakui mempunyai kandungan nilai-nilai sakral oleh penduduk Wakatobi, pada jaman lampau digelar sekali didalam setahun, yakni pada tiap-tiap usai merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Para tetua rutinitas menentukan perayaan hari Raya Idul Fitri sebagai momentum paling tepat menggelar rutinitas Kabuenga dikarenakan pada hari besar umat Islam, penduduk Wakatobi yang merantau di beragam tempat di Indonesia, apalagi di luar negeri, pulang kampung atau mudik lebaran.

Tradisi Kabuenga bermula pada legenda La Lili Alamu, putra mahkota kerajaan Kambode di Pulau Kapota, yang melatar belakangi rutinitas penduduk di kepulauan Wakatobi ini. Sebagai pria yang sudah beranjak dewasa, La Lili Alamu merasa bahwa sudah tiba waktunya bagi seorang wanita untuk bersanding dengannya. Niat ini pun di sampaikan kepada ayahnya, Raja Kambode.

Di hadapan ayahnya, La Lili Alamu menyebut Wa Siogena, nama seorang wanita yang berkunjung berasal dari kalangan rakyat jelata. Bayangan Wa Siogena tetap ada di didalam pikiran, apalagi ada didalam mimpi-mimpi sang putra raja ini. Mengetahui bahwa yang mengidamkan dipinang anaknya adalah seorang wanita berasal dari kalangan rakyat jelata, memuncak lah kemarahan sang Raja, tentu saja bapak La Lili Alamu menampik mentah-mentah konsep ini.

Kekecewaan yang begitu mendalam meliputi hati La Lili Alamu. Timbullah permohonan nya untuk merantau ke tempat-tempat yang jauh. Sang ibu merestui, sang bapak pun merelakan nya bersama harapan putra nya bakal mengabaikan pujaan hati nya, Wa Siogena.

Tahun demi tahun sudah berlalu, beragam tempat pun sudah di singgahi oleh La Lili Alamu, banyak sudah wanita yang dikenalnya tapi Wa Siogena tetap tersimpan didalam ingatan dan sanubarinya.

Sepulangnya La Lili Alamu berasal dari tanah rantau, Raja Kambode mengadakan sayembara untuk mencari pasangan hidup bagi anaknya. Dikumpulkanlah wanita-wanita bangsawan berasal dari penjuru negeri. Raja Kambode pun bertitah , “Putraku bakal menentukan Sarung Leja buatan tangan kalian yang sepenuhnya bakal dihimpun di sebuah ayunan kain. Wanita yang memintal Sarung Leja yang terpilih oleh anakku, maka dialah yang bakal menjadi istrinya.

  1. Upacara Adat Karia
    Upacara rutinitas Karia’a adalah sama bersama perayaan sunatan. Upacara ini biasanya dikerjakan oleh Suku Buton, dimana anak-anak mereka biasanya sudah disunat sejak usia lima tahun. Upacara rutinitas Karia’a, yang biasanya dikerjakan di sebuah lapangan terbuka, ditandai bersama suara nyanyian berasal dari sekelompok ibu-ibu.
    Seluruh peserta perayaan Karia’a bakal mendapatkan anggota berasal dari syara, yakni pemimpin upacara Karia’a. Kemudian, seluruh peserta upacara bakal menuju batanga, yakni tempat perayaan berasal dari tempat tinggal mereka masing-masing. Peserta menuju batanga bersama gunakan kansoda’a, yakni usungan yang terbuat berasal dari bambu besi, atau oleh penduduk setempat disebut o’o.

Karia’a memang sama bersama perayaan sunatan, dimana anak-anak perempuan yang sudah dihias diusung selama perayaan berlangsung. Perayaan Karia’a dikerjakan bersama arak-arakan keliling kampung sambil membawa usungan.

Uniknya, didalam perayaan Karia’a yang diusung bukanlah anak laki-laki yang sudah disunat, melainkan anak-anak perempuan yang sudah didandani bersama pakaian rutinitas tempat Buton, Wakatobi dan hiasan bunga di kepala.

Setiap usungan bisa memuat tiga hingga lima anak perempuan dan diusung oleh empat hingga sepuluh laki-laki dewasa. Arak-arakan Karia’a boleh termasuk diikuti oleh laki-laki dewasa yang sudah disunat tapi belum dulu mengikuti perayaan Karia’a sebelumnya.

Upacara rutinitas Karia’a merupakan tidak benar satu rutinitas Suku Buton Wakatobi yang sudah dikerjakan sejak 1918.

  1. Adat Karia di Kabupaten Muna
    Karia punya makna yang mendalam bagi penduduk Muna. Betapa tidak? Tradisi rutinitas “karia” merupakan sebuah pintu gerbang menuju kedewasaan bagi kalambe-kalambe Muna, supaya makna yang melekat pada rutinitas ini perlu di tempatkan sebagai sebuah filterisasi bagi kalambe Muna didalam memaknai gesekan prilaku yang berkembang akibat modernisasi.

Artinya, makna “karia”, dijadikan sebagai pensucian dan kesiapan menuju kedewasaan, dan perlu siap untuk bersikap didalam menyaksikan realitas hidup yang makin lama keras. Adat “karia“ termasuk merupakan suatu prosesi yang perlu dijalani oleh seorang gadis sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Sehingga orang tua merasa bertanggung jawab jikalau anak gadisnya sudah beranjak dewasa.

Sungguh mengasyikkan bagi seorang kalambe Muna yang tengah merintis rutinitas ini. Mengapa? Jika kami ikuti, rutinitas rutinitas ”karia” berjalan selama 4 hari 4 malam. Malam pertama, disebut malam “kafoluku” (masuknya para gadis didalam kamar pingitan).

Sebelum masuk didalam “kaghombo” (kamar pingitan) ada ritual-ritual yang perlu dijalani para gadis. Diawali bersama dimandikannya para gadis oleh orang tua yang dipercaya (modhi) yang disebut ritual “kakadiu”. Setelah itu, para gadis dipersilahkan duduk di tikar berasal dari daun kelapa hijau (ponda) bersama cuma mengenakan sarung.

Kemudian, disuruh mengambil ketupat yang di sediakan di talang besar bersama cara membelakang dan gunakan tangan kanan. Ritual ambil ketupat ini tunjukkan ramalan nasib sang gadis jaman depan. Selanjutnya, para gadis masuk satu persatu ke didalam “kaghombo” bersama berjalan jongkok.

Di didalam “kaghombo” (kamar pingitan) ada aturan-aturan yang perlu ditaati oleh para gadis, yakni tidak boleh berdiri, tidak boleh membuang air besar, tidak boleh menggaruk gunakan tangan jikalau gunakan sisir.
Malam ke dua pingitan disebut malam “kaghombono patirangga”. Pada malam ke dua ini ada dua pasang remaja yang dipercayakan untuk mengambil air, selanjutnya disimpan (doghomboe) . Malam ketiga disebut malam “kaalanao patirangga”. Pada malam “kaalano patirangga” (mengambil bunga paci), dua pasang remaja mengambil bunga paci untuk dipakai oleh para gadis yang dipingit. Pada hari ke-4, ada rutinitas “kabahalengka” yakni kamar pingitan dibuka.

Dilanjutkan bersama acara merias yang dinamakan “kabhindu”. Dalam acara ini diiringi bersama pukulan gong dan tabuhan gendang yang tingkatkan semarak acara “kabhindu” tersebut. Setelah malam hari tiba, di sinilah dinamakan malam “kafosampu” yakni para gadis yag sudah dirias digendong hingga di atas panggung. Setelah para gadis duduk dan lilin-lilin “sultaru” menyala, terlihat ritual “kafotanda”. Ritual ini dikerjakan oleh orang tua (modhi) yang disebut “fokantandano”, sebagai tanda selamat sudah selesai atau melalui acara pingitan kepada para gadis yang dipingit.

Acara puncak pada malam “kafosampu” adalah para gadis yang dipingit menari di atas panggung. Tarian ini didahului bersama menarinya “sumareno” (yang terhubung acara tari). Diiring bersama tabuahan gendang oleh “karia kogandano”. Para gadis menari bersama “osamba” (selendang putih). Selanjutnya pada waktu menari, para gadis mendapatkan hadiah berasal dari para pengunjung atau para penonton, baik keluarga, teman, atau kerabat dekat.

Proses dukungan hadiah adalah bersama melemparkan hadiah yang bakal diberikan kepada gadis yang dipingit tepat waktu ia menari. Seperti itulah, para gadis menari satu persatu berasal dari “matansala” (pimpinan) hingga selesai.

  1. Layang-layang tradisional Khagati, berasal dari Kabupaten Muna
    Layang-layang pertama di Indonesia itu bernama Kaghati, sebuah layang-layang khas suku Raha, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Hal itu dibuktikan bersama adanya lukisan tangan manusia di didalam sebuah gua.

Lukisan tersebut berada di Gua Ceruk Sugi Patani, Desa Liang Kobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna. lukisan itu melukiskan seseorang yang tengah bermain layang-layang. Lukisan didalam gua itu terbuat berasal dari oker. Itu merupakan campuran antara tanah simak bersama getah pohon.

Permainan layang-layang (Kaghati) oleh nenek moyang penduduk Muna sudah dikerjakan sejak 4 ribu tahun lalu. Hal ini berdasarkan penelitian Wolfgong Bick tahun 1997 di Muna.

Layang-layang tradisional berasal dari Pulau Muna ini terbuat berasal dari lembaran daun kolope (daun gadung) yang sudah kering sesudah itu dipotong ujung-ujungnya.

Satu per satu daun tersebut dijahit supaya tiap-tiap helai daunnya bisa menyatu, sebagai rangka layangan terbuat berasal dari lidi bambu, dan talinya dijalin berasal dari serat nenas hutan. Untuk memicu satu buah Kaghati dibutuhkan banyak daun, yakni kurang lebih 100 lembar daun.

Related Posts